Aku Pulang

Oleh : Nurfitri Rahmawati

Kepulan asap bis dan angkot mulai terlihat ketika bis yang aku tumpangi memasuki terminal Mandala. Satu per satu penumpang turun. Matahari sedikit demi sedikit kembali bersinar mengusir awan gelap. Hari itu kota Rangkasbitung baru saja diguyur hujan, terlihat genangan air hampir di sepanjang jalan di Terminal. Ku lihat sekeliling tempat ku berdiri, para pedagang mulai ramai kembali menjajaki barang dagangannya, terlihat juga pengemis-pengemis yang memelas minta dikasihani, suara ribut orang-orang beradu dengan ributnya kendaraan yang hilir mudik. Di pinggiran terminal masih banyak rumah-rumah makan dan toko kelontongan yang berdiri setia mencari nafkah. Tak banyak yang berubah sejak enam tahun yang lalu ku tinggalkan kota tempat ku dibesarkan ini.

Ku langkahkan kakiku menuju salah satu angkutan umum yang sejak tadi menunggu penumpang untuk diantarkan ke tempat tujuan. Tiba-tiba beberapa kenek datang menghampiriku. Ada yang menarik-narik tasku, ada juga yang tidak berhenti bicara menawarkan angkutannya. “Mas, kalau ke Pandeglang yang itu saja Mas, masih kosong. Mari Mas saya bawakan tasnya!”

“ tidak usah, terima kasih! Aku mau ke Kota.”

Ceuk urang naon, ieu mah rek ka Kota.”¹ Setelah itu, kenek yang menarik-narik tasku pergi mencari penumpang lain.

Punten², A’. kalau mau ke Kota naik yang itu saja, yang jurusan Kalijaga.” Aku dan kenek itu berjalan menuju angkutan umum jurusan Kalijaga.

Di perjalanan, aku kembali melihat sekeliling. Kota Rangkasbitung sudah berubah drastis, hampir aku tak mengenalinya. Sekarang kota Rangkasbitung sudah seperti kota-kota besar, lebih modern dengan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan yang lebih elite, bahkan alun-alun Kota pun semakin bagus. Tidak seperti kota yang dulu masih banyak pohon-pohon besar hampir di setiap jalan sempit yang masih dikuasai becak. Selama di angkot aku juga berbincang-bincang dengan seorang penumpang setengah baya yang memakai peci dan baju koko yang duduk tepat di depanku. “memang mau kemana?”

“Aku mau menengok keluarga di daerah Cimarga. Sudah lama tidak berkunjung.”

Tak lama angkot yang ku tumpangi sudah sampai di Kota. Segera ku berhentikan angkot tersebut. Setelah itu aku kembali menunggu angkot berikutnya jurusan Cimarga. Tak sampai lima menit, angkot yang ku tunggu datang juga. Aku duduk di bangku paling pojok di belakang. Benar-benar penuh di dalam, sampai-sampai tas yang ku bawa harus ku simpan di pangkuanku.

Memasuki daerah Cimarga, angkot yang kutumpangi melaju cukup kencang melawan arah angin, jalan yang rusak dan licin sehabis diguyur hujan membuat perjalanan menjadi kurang nyaman. Terlihat seorang ibu yang memangku anaknya mengomel terus tanpa didengar oleh supir. Aku berpegang erat pada bangku sambil tak henti-hentinya berdo’a agar aku bisa selamat sampai tujuan.

Ketika memasuki kampung Sudamanik, angkot ku berhentikan tepat di depan rumahku yang masih setengah gubuk. Ku pandangi lekat-lekat rumahku, tak banyak yang berubah. Pohon mangga yang biasa ku naiki bersama adik dan temanku sewaktu kecil masih berdiri kokoh memayungi rumah, cat berwarna putih lusuh dengan retakan dimana-mana seakan menggambarkan begitu tuanya rumahku. Ku langkahkan kakiku perlahan menuju rumah tempat ku dibesarkan. Jantungku berdegup keras, tanganku menjadi dingin. Aku benar-benar seperti orang asing ketika kakiku memasuki pekarangan rumah yang masih tanah. Tak heran, sudah enam tahun aku meninggalkan rumah tanpa mengirim kabar kepada keluargaku di sini, aku takut mereka marah padaku.

Enam tahun yang lalu Sepeninggal Bapak, keadaan ekonomi keluarga benar-benar tak karuan, termasuk keadaan mentalku. Sebagai anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki, akulah yang bertanggung jawab atas keluargaku, namun aku melalaikannya, aku tak tahan dengan keadaan keluargaku saat itu, aku bersikeras untuk merantau meninggalkan kampung dan bekerja di tempat rantauanku nanti. Ibu dan kedua adik perempuanku melarangku pergi, aku tetap membantah mereka, Ibuku sangat terpukul dan marah. Dengan modal nekad dan seadanya aku pergi juga, tanpa mengirim kabar, apalagi uang untuk keluargaku dikampung. Aku benar-benar malu mengingat kejadian itu.

Tiba-tiba seorang anak kecil berbaju biru pudar tanpa alas kaki menghampiriku dan membangunkanku dari lamunan yang membuat mata dan hatiku berkaca-kaca dan tergores sakit. Ia mamandangiku dan kemudian berlari memasuki rumah. Tak lama seorang perempuan berkulit coklat dan berambut ikal keluar sambil menggendong anak kecil tadi, tampak tak asing bagiku. Perempuan itu adalah Mirna, adik perempuan pertamaku. Tiba-tiba ia menurunkan anak kecil itu dan berlari ke arahku. “A’ Firman…!” teriaknya sambil memelukku. Ku balas pelukan hangatnya, ku tumpahkan kerinduanku padanya.

“A’ kenapa baru pulang, kemana aja sih? Kenapa nggak kirimin kabar? Mirna kan jadi cemas.” Aku hanya tersenyum menutupi betapa bersalahnya diriku.

Kadieu A’, Mirna candakkeun tasna!”³

Mirna menyuruhku mandi dan makan terlebih dahulu. Ketika aku telah selesai membereskan semuanya, aku duduk menemani Mirna di ruang tamu. Anak kecil itu juga ada sedang bermanja-manja dengan Mirna. “tidak tidur dulu A’?”

“Tidak usah, Aa belum ngantuk. Mirna ini siapa?” sambil menunjuk anak kecil berwajah imut yang tidur-tiduran di paha Mirna.

Dengan malu-malu ia menjawab, “Kenalin A’ ini Taufik, anak Mirna”

“Kau sudah menikah, Mirna? Kenapa tak bilang. Suamimu mana?” aku malu pada diriku sendiri yang sampai saat ini belum menikah.

“Dia bekerja di Serang, baru pulang seminggu lagi.” Jawab Mirna sambil mengelus-elus rambut Taufik.

“ Mir, Ibu dan Santi mana? Kok tidak kelihatan.”

“Ibu masih bekerja di sawah Pak Toha, Santi bekerja membantu-bantu di rumah Bu Toha. Sebentar lagi mereka pulang.”

“Ibu masih bekerja! Mengapa kau membiarkannya? Ibu kan sudah tua, seharusnya ibu beristirahat saja di rumah.” Kataku terkejut.

“Mirna sudah meminta Ibu untuk berhenti bekerja, tapi Ibu menolak. Kata ibu ini sebagai bentuk ibadah dan pengabdiannya kepada keluarga.”

Aku benar-benar terkejut dan malu mendengarnya. Ibu yang sudah tua itu masih banting tulang menutupi ekonomi keluarga. Tangannya yang lemah dan badannya yang bungkuk masih ia gunakan untuk bekerja berat. Dulu ibu adalah wanita yang cantik, setiap pemuda di kampung jatuh hati padanya. Hingga suatu saat, atas keagungan-Nya Ibu dipertemukan dengan seorang pemuda yang bertanggung jawab, pemuda itu adalah Bapakku tersayang. Namun kini semua itu telah tertutupi oleh keringat perjuangan, sudah tak terhitung berapa banyak kerutan di wajah cantiknya.

Tak lama setelah itu, Ibu dan Santi pulang dari aktivitas melelahkan yang tak seharusnya mereka kerjakan. Aku langsung datang menghampiri mereka dan memeluk erat-erat. Segera ku bersujur di kaki Ibu yang sudah tak kuat menopang beratnya kehidupan.

”Bu, Firman pulang, Firman pulang, Firman minta maaf pada Ibu atas semua kesalahan yang Firman lakukan. Ibu boleh menghukum Firman, Ibu boleh menampar dan memukul anak Ibu yang sudah dengan teganya membiarkan Ibu menanggung semua penderitaan. Firman egois, Firman jahat, Firman tak tahu balas budi, Firman telah durhaka pada Ibu…maafkan Firman, Bu…!”

Dengan lembut Ibu mengajakku berdiri dan memeluk hangat tubuhku. Bisa ku rasakan kasih sayangnya yang begitu dalam padaku, bisa ku rasakan air matanya mengalir mambasahi pipi keriputnya, ia membisikkan sesuatu yang lembut padaku “Anakku sayang…”

Ia melepaskan pelukannya. “Firman sayang, Ibu tak pernah marah padamu, untuk apa Ibu marah pada anak yang Ibu besarkan dengan perjuangan yang begitu besar bersama Bapakmu. Ibu memaafkanmu, Nak. Kau sudah pulang saja rasanya seperti mendapatkan karunia terindah dari Allah SWT. jangan pergi lagi ya, Nak!” sambil menghapus air mataku.

Mirna dan Santi datang mendekapku, menghapus segala hitam di dada, menyejukkan hati dengan siraman kasih sayang, mengusir dingin dengan kehangatan cinta yang mereka berikan. Kata-kata Ibu benar-benar menerbangkanku menuju pengampunan. Tak kurasakan lagi perasaan bersalah yang selalu menghantui setiap mimpiku. Tak hanya itu., senyuman dan dekap hangatnya membawaku menuju ketenangan surga dunia yang kucari.

Keterangan :

  1. ¹ Kataku juga apa, dia ini mau ke kota
  2. ² Permisi

³ Sini A’, biar Mirna bawakan tasnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: